-TUGAS
SOSIOLOGI-
Topik :
Upacara Pemakaman Masyarakat Toraja
Judul :
Upacara Rambu Solok , Upacara Termahal di Indonesia
LATAR
BELAKANG
Siapa
yang tak kenal dengan Toraja, negeri dengan begitu banyak adat istiadat dan
tempat tujuan wisata yang sangat indah. Toraja, berjarak 300 kilometer dari
Makassar, Sulawesi Selatan, menyimpan berbagai macam
adat dan budaya leluhur yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dan tetap
lestari hingga kini.
Setiap
keturunan suku Toraja, di manapun berada, wajib menjunjung tinggi akar budaya
nenek moyang mereka. Hingga kini, anak cucu keturunan suku Toraja yang berada
di luar negeri dan berbagai wilayah di Indonesia, akan tetap melakukan tradisi
yang sama yang dilakukan oleh nenek moyang mereka ribuan tahun yang lalu.
Ketaatan
mereka dalam menjalankan adat istiadat dan budaya peninggalan nenek moyang
mereka hingga kini, menarik banyak wisatawan asing dan dalam negeri untuk
mengunjungi Tana Toraja dan Toraja Utara setiap tahunnya. Toraja, kini menjadi
salah satu daerah wisata andalan yang dimiliki oleh Sulawesi Selatan. Berbagai
upacara adat yang dimiliki oleh Tana Toraja dan diselenggarakan setiap tahun,
menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan asing.
Di karenakan karena Ketidakpastian akan misteri kehidupan setelah
mati, menciptakan kekhawatiran akan nasib si mati di alam baka. Di dataran
tinggi Tana Toraja dan Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, upaya untuk menguak misteri itu telah
menciptakan sebuah prosesi religius yang begitu rumit, kompleks, dan memakan
banyak tenaga serta biaya. Masyarakat Toraja menyebutnya dengan Upacara Rambu Solok.
Ritual itu dikenal sebagai upacara pengantar jenazah seseorang ke penguburan.
Meski hanya sebuah ritual kematian, penyelenggaraan upacara itu layaknya sebuah pesta besar. Sebab, puluhan ekor kerbau dan babi mesti dikorbankan dengan melibatkan massa secara kolosal dan membutuhkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.
Jika mengikuti tata cara Aluk To Dolo, upacara Rambu Solok sebenarnya adalah upacara yang rumit dan kompleks. Namun, sejak masuknya agama Kristen, Katolik, dan Islam, beberapa bagian prosesi telah dihilangkan.
Meski hanya sebuah ritual kematian, penyelenggaraan upacara itu layaknya sebuah pesta besar. Sebab, puluhan ekor kerbau dan babi mesti dikorbankan dengan melibatkan massa secara kolosal dan membutuhkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.
Jika mengikuti tata cara Aluk To Dolo, upacara Rambu Solok sebenarnya adalah upacara yang rumit dan kompleks. Namun, sejak masuknya agama Kristen, Katolik, dan Islam, beberapa bagian prosesi telah dihilangkan.
PEMBAHASAN
Ada berbagai upacara adat di Toraja, salah satunya adalah
Rambu Solo, upacara pemakaman leluhur yang telah meninggal
beberapa tahun sebelumnya.
Upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’
diiringi dengan seni tari dan musik khas Toraja selama berhari-hari. Rambu Tuka’
adalah upacara memasuki rumah adat baru yang disebut Tongkonan atau rumah yang
selesai direnovasi satu kali dalam 50 atau 60 tahun. Upacara ini dikenal juga
dengan nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.
Sementara itu, Rambu Solo’ sepintas seperti pesta besar.
Padahal, merupakan prosesi pemakaman. Dalam adat Toraja, keluarga yang
ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada yang
telah meninggal. Orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit sehingga
harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang hidup, seperti menemaninya,
menyediakan makanan, dan minuman, serta rokok atau sirih.
Tidak hanya ritual adat yang dijumpai dalam upacara Rambu
Solo’. Berbagai kegiatan budaya menarik pun ikut dipertontonkan, antara lain Mapasilaga
Tedong (adu kerbau) dan Sisemba (adu kaki).
Rambu Solo’ akan semakin meriah jika yang meninggal adalah
keturunan raja atau orang kaya. Jumlah kerbau dan babi yang disembelih menjadi
ukuran tingkat kekayaan dan derajat mereka saat masih hidup. Di Rantepao, Anda
bisa menyaksikan upacara Rambu Solo yang meriah.
Pembangunan
makan bagi keluarga yang meninggal dan penyelenggaraan Rambu Solo’ biasanya
menelan dana ratusa juta rupiah hingga miliaran. Tak heran, karena banyak
sekali ritual adat yang harus mereka jalankan dalam prosesi pemakaman tersebut.
Salah satu Rambu Solo’ yang besar, berlangsung hingga tujuh
hari lamanya. Yang seperti itu disebut Dipapitung Bongi. Hewan yang harus
dipotong saja tak kurang dari 150 ekor, yang terdiri dari kerbau dan babi.
Dagingnya akan mereka bagikan kepada penduduk desa sekitar yang membantu proses
Rambu Solo’.
secara umum, ada empat bagian prosesi yang masih terus
dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan
penguburan.
Upacara Mapalao adalah ritual untuk
membawa jenazah ke pusat prosesi, yaitu di rumah adat Tongkonan. Mapalao
dilakukan dengan mengarak keranda jenazah dari rumah tinggal menuju Tongkonan
keluarga. Di sanalah, jenazah disemayamkan sementara waktu di sebuah Lakean
yang terletak di ujung Tongkonan.
Usai upacara Mapalao,
keluarga menerima kedatangan para tamu untuk memberi penghormatan terakhir
kepada almarhum. Bunyi lesung yang ditabuh sejumlah wanita menjadi pertanda ada
tamu yang datang.
Para tamu datang dalam
kelompok-kelompok keluarga dengan membawa hewan seperti kerbau dan babi untuk
disumbangkan. Setiap kali rombongan tamu tiba, tuan rumah segera membawa mereka
ke Lantang dan menyediakan hidangan. Di saat yang sama, alunan kidung kesedihan
dari penari Renteng sengaja dilantunkan untuk menggambarkan sejarah hidup
almarhum.
Proses yang agak rumit terjadi saat upacara penyembelihan kerbau. Sebab, hewan yang telah diterima keluarga, baik dari sumbangan maupun keluarga sendiri akan dihitung oleh panitia yang terdiri dari keluarga, aparat desa, dan masyarakat adat. Dalam proses ini, sering terjadi negosiasi yang alot.
Proses yang agak rumit terjadi saat upacara penyembelihan kerbau. Sebab, hewan yang telah diterima keluarga, baik dari sumbangan maupun keluarga sendiri akan dihitung oleh panitia yang terdiri dari keluarga, aparat desa, dan masyarakat adat. Dalam proses ini, sering terjadi negosiasi yang alot.
Terkadang, protes datang karena
ketakpuasan soal jumlah kerbau yang harus disembelih. Namun, kesepakatan akhir
tetap harus terjadi, tak peduli proses negosiasi berakhir dengan protes. Di
depan Tongkonan dan keranda jenazah, satu demi satu tebasan pedang para penjagal
mengakhiri ajal sang kerbau.
Setelah semua rangkaian upacara
telah dilewati maka saatnya dilakukan penguburan. Masyarakat Toraja mempunyai
tradisi unik dalam mengubur orang yang telah mati. Penguburan tak dilakukan di
tanah, tapi di goa-goa alam yang terletak di tebing-tebing pegunungan. Bahkan,
mereka meyakini bahwa semakin menantang proses penguburan maka semakin tinggi
pula derajat keluarga yang meninggal.
Akhirnya, sebuah prosesi penguburan
yang sangat berbahaya dilakukan. Mulai dari kelincahan, keberanian, serta
dorongan keyakinan spiritual. Terkadang, nyawa harus dipertaruhkan dalam proses
penguburan ini. Semuanya dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa yang diperbuat
akan membahagiakan leluhur yang telah meninggal.
KESIMPULAN
Upacara
rambu solok adalah upacara yang memakan biaya yang besar, yang di lakukan untuk
menghargai atau sebagai penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal.
Upacara tersebut di lakasanakan selama 7 hari berturut-turut. secara umum, ada
empat bagian prosesi yang masih terus dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan
tamu, penyembelihan kerbau, dan penguburan.
SARAN
Kepada
para siswa sebagai generasi penerus cita-cita serta penjujung tradisi dan
kebudayaan Bangsa Indonesia di masa depan agar bisa lebih menghargai dan
menjujung tinggi budaya dan tradisi dari nenek moyang serta melestarikannya dan
memperlihatkannya di mata Internasional .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar