Happy reading......
TUGAS
MATA KULIAH TEKNIK PENULISAN
Oleh
: Nurul Adliyah Purnamasari (F61112003)
FROM
BULUKUMBA WITH LOVE
Tok..tok..tok..
Seorang
diluar sana mengetuk pintu kamarku. Mengagetkanku yang sedang belajar untuk
menyambut ujian final terakhir besok.
“Iya, tunggu.” Aku bangkit dengan
malas-malasan membuka pintu. Kak Oli tampak berdiri dengan tersenyum didepan
pintu kamarku. Membuat aku lebih bete lagi. Huh, ngapain sih dia, mengganggu
orang yang lagi belajar ajah.
“Ada apa sih, kak ?” tanyaku sambil
berjalan kembali menuju tempat tidur.
“Besok terakhir ujian kan ? habis itu liburan hampir tiga bulan kan ?
kamu ada acara gak buat liburan nanti ?” Kak Oli bertanya dengan penuh semangat
tanpa jeda sedikitpun.
“iya, emang kenapa sih kak ?” aku
kembali menekuni buku cetak diatas tempat tidur,
“Temenin kakak ke Bulukumba, yuk ?”
“Ke Bulukumba ? Sulsel ? Ngapain ?” Aku kaget.
“Temani kakak observasi disana yah ?
untuk penilitian skripsi sih ? temenin yah ? masa kakak kesana sendiri sih ?”
Bujuk kak Oli.
Aku berfikir. Kayaknya seru juga,
aku kan belum pernah kesana. Lagian habis ujian kan butuh sedikit refreshing. “yaudah deh, aku mau” kataku
ke Kak Oli.
“yah, gitu dong, itu baru namanya
anak manis” Kak Oli tersenyum bahagia.
***
Akhirnya Ujian final pun selesai.
Hari ini kami telah berada di Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak.
Menunggu penerbangan kami menuju Makassar. Ternyata kak Oli akan mengambil
penelitian Skripsi di daerah adat Kajang, Kabupaten Bulukumba. Sebuah Kabupaten
di Sulawesi Selatan. Kak Oli adalah seorang mahasiswi tingkat akhir Jurusan
Antropologi Sosial di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Sedangkan aku sendiri
aku adalah mahasiswa jurusan Bahasa Asing, pada Akademi Bahasa Asing Pontianak.
Baru saja menyelesaikan semester 2, dan akan segera naik pada semester 3
setelah liburan kali ini.
Pada pukul 14.30 kami mendarat di
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Setelah perjalanan 1 jam dari
Pontianak ke Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan Jakarta ke
Makassar selama 2 jam. Sesampainya kami di Makassar, kami dijemput oleh kak
Kaffan, pacar Kak Oli yang juga Mahasiswa Antropologi di Universitas Hasanuddin
Makassar. Mereka bertemu ketika mengikuti kegiatan temu Ilmiah Mahasiswa
Antropologi se-Indonesia tahun 2013 lalu di Makassar.
“Kaffan, ini adik aku, Alin.” Kak
Oli memperkenalkan ku kepada Kak Kaffan.
“Kaffan..” Kak Kaffan mengulurkan
tangan sambil tersenyum.
“Alin” kubalas uluran tangannya
dengan senyuman ramah.
***
Keesokan harinya, pukul 07.15 menit
kami berangkat ke Kajang dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Kak
Kaffan. Dia menemani kami berdua ke Kajang, sekaligus membantu kak Oli dalam
melakukan penelitiannya tersebut. Dalam perjalanan kami melewati beberapa
kabupaten dengan pemandangan khas Indonesia. Kami melewati persawahan dan
pengunungan yang hijau. Sunggu indah pemandangan Indonesia. Tidak kalah dengan
pemandangan diluar negeri sana. Sekitar pukul 15.00 kami sampai di kawasan
komunitas adat Amma Toa. Sebuah kawasan adat yang masih mempertahankan
kebudayaan dan tradisinya dengan hidup sederhana menggunakan pakaian berwarna
hitam setiap harinya.
Kak Oli akan memulai penelitiannya
besok hari. Kami menginap disalah satu rumah warga, daerah Kajang luar. Dearah
Kajang luar terletak dibagian depan, sebelum memasuki daerah Kajang dalam yang
memang masih hidup dengan tradisi-tradisi leluhur mereka. Daerah Kajang luar
bisa dikatakan sudah mulai tersentuh dengan modernisasi. Sehingga kehidupan mereka
sudah tidak jauh berbeda dengan masyarakat lainnya.
Keesokan harinya, aku dan Kak Kaffan
menemani Kak Oli memulai untuk penelitian. Selain itu, kami juga ditemani
dengan seorang masyarakat sekitar. Karena hanya segelintir dari masyarakat
Kajang Dalam yang mengerti bahasa Indonesia. Mereka mayoritas hanya bisa
berbahasa Konjo. Bahasa asli masyarakat Bulukumba. Kami berjalan sekitar 2
meter untuk mencapai daerah Kajang Dalam. Dalam perjalanan kami berkenalan
dengan seorang mahasiswa dari Taiwan. Dari perkenalan kami ketahui ia bernama
Lin Chou. Ia adalah mahasiswa Kedokteran dari Universitas Katolik Fu Jen,
Taiwan. Ia sedang melakukan praktek di daerah Kajang sebagai tugas akhir
sebelum lulus dari fakultas kedokteran. Lin Chou tersenyum sangat manis
kedapaku. Kulitnya putih, hidungnya mancung dengan tinggi sekitar 178 cm.
Rambutnya agak panjang dengan poni kedepan. Sangat khas pria Taiwan, yang lebih
mengangumkan dia sangat fasih berbahasa Indonesia.
Sore hari ketika Kak Oli selesai
melakukan observasi pada hari ini, kami kembali berjalan menuju rumah yang kami
tempati. Setidaknya Kak Oli masih akan tetap melakukan penelitian hingga dua
bulan kedepan. Hari ini kami banyak
berinteraksi dengan masyarakat adat. Termasuk dengan Lin Chou, dia sangat ramah
dengan kami. Senyumnya tidak pernah hilang jika bertatapan denganku yang selalu
kubalas dengan senyuman malu-malu. Ternyata Lin Chou juga menginap di Kajang
Luar, tepatnya di rumah kepala Desa. Sehingga kami bisa berjalan bersama menuju
tempat yang kami tinggali disini.
Malam harinya kami habiskan dengan
bercengkrama bersama di balkon depan rumah. Kami bercerita banyak hal. Malam
disini sangat sepi. Sunyi. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Namun, inilah
yang menarik. Hal yang tidak pernah kami dapatkan jika berada di Kota yang
penuh dengan keramaian.
Pukul enam pagi, alarm pada handphoneku berbunyi. Aku
terbangun, Kak Oli masih tertidur disampingku bersama dengan anak gadis sang
pemilik rumah. Aku bangkit menuju toilet yang berada dibagian bawah rumah
panggung. Setelah itu, aku berjalan menuju halaman rumah, udara pagi yang cukup
dingin. Mataku menangkam sosok yang kemarin sangat mencuri perhatianku. Lin
Chou sedang berlari-lari kecil. Dia melihatku dan menyunggingkan senyuman manis
kepada yang kubalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Dia terlihat
berjalan menghampiriki.
“Selamat pagi, Alin. Mau lari pagi
dengan ku ?” Ajaknya.
“Tentu, tunggu sebentar yah,” Aku
tersenyum. Kemudian berjalan menuju rumah mengganti piama dan sandal jepitku
dengan peralatan jogging.
Pagi ini aku habiskan dengan lari
pagi dengan Lin Chou. Kami begitu akrab. Kami bercerita begitu banyak hal, dia menyakan
banyak hal tentang diriku, begitupun sebaliknya. Hal yang membuatku begitu
kanget ternyata dia bukanlah asli Taiwan, hanya ayahnya yang berasal dari
Taiwan. Namun ibunya asli Singkawang. Sebuah Kota di Kalimantan Barat. Ternyata
kami sama-sama berasal dari Kalimantan Barat. Ternyata itulah yang menjawab
mengapa dia begitu fasih berbahasa Indonesia. Namun, dia lahir dan besar di
Taiwan, hanya sesekali dia kembali ke Singkawang menemani sang Ibu bertemu
keluarganya disana. Tidak mengherankan, Singkawang memang mayoritas masyarakat
Tionghoa, banyak diantara gadis-gadis Singkawang atau yang lebih dikenal dengan
kata Amoy menikah dengan pria Taiwan. Salah satunya yah, ibu Lin Chou. Mulai
hari ini kami sangat akrab. Hari-hari berikutnya kami banyak menghabiskan waktu
bersama. Aku merasa bagitu nyaman bersama Lin Chou. Dia begitu baik dan
perhatian. Terutama statusnya yang calon dokter membuat aku semakin
mengaguminya. Dia begitu ramah dengan pasien-pasienya dan mudah berbaur dengan
masyarakat sekitar sini.
***
Tidak terasa, sudah sebulan lebih
aku menemani Kak Oli penelitian disini. Kak Kaffan beberapa hari yang lalu
kembali ke kota Makassar. Dia akan kembali lagi kesini bulan depan untuk
menjemput kami. Hubungan aku dengan Lin Chou semakin dekat. Kadang, aku
menemani dan membantu ia memeriksa pasien-pasiennya. Sehingga aku banyak
belajar mengenai ilmu kedokteran darinya. Hari-hari yang kami lalui begitu
menyenangkan. Namun, 3 hari lagi dia akan ke Singkawang untuk menjemput ibunya,
kemudian kembali ke Taiwan untuk menyelesai kuliahnya. Dia telah menyelesaikan
tugasnya praktik disini selama 6 bulan. Aku begitu sedih. Namun Lin Chou selalu
menghiburku, dan berjanji setelah kuliahnya selesai dia akan ke Kalimantan
Barat untuk menemuiku. Besok dia mengajakku ke Bira, dia mengajakku jalan-jalan
ke salah satu pantai yang cukup terkenal di daerah sini. Aku meminta izin
kepada Kak Oli dan dia mengizinkan.
Pagi hari, kami bersiap-siap
berangkat ke Pantai Bira. Kami menggunakan sebuah mobil mikrolet yang disewa
oleh Lin Chou. Perjalanan kami diwarnai dengan cerita-cerita dan humor yang
dikeluarkan oleh Lin Chou, membuat kami tidak berhenti tertawa. Setelah
perjalanan yang cukup jauh kami sampai di pantai. Hari ini pantai tidar terlalu
ramai, mungkin karena ini bukan hari libur sehingga tidak terlalu banyak
pengunjung yang datang. Kami menghabiskan waktu dengan berenang dan
berlari-lari di tepi pantai. Sangat menyenangkan. Kami tertawa begitu ceria.
Seakan melupakan bahwa besok kami akan segera berpisah, walaupun Lin Chou
meyakinkan ini hanya perpisahan sementara. Setelah capek berlari-larian, kami
akhirnya memilih duduk berdua ditepi pantai. Warna jingga dilangit sudah
Nampak. Matahari akan segera terbenam.
“Alin,” Lin Chou menatapkan begitu
sayu, aku balas menatapnya “Satu bulan terakhir ini aku begitu bahagia bisa
bersama mu,” ungkap Lin Chou. “Besok kita akan berpisah, tapi aku aku berjanji
akan segera kembali untukmu, aku berjanji” dia menggenggam tanganku, memberikan
ku kehangatan yang luar biasa. “Alin, will
you be my girl ?”
Aku kaget, aku tidak menyangka Lin
Chou memiliki perasaan yang sama denganku. Aku bahagia. Aku membalasnya dengan
anggukan kepala yang membuatnya tersenyum bahagia. Dia kembali menggenggam
tanganku. Aku tertawa begitu bahagia. Dibawah matahari yang mulai tenggelam,
aku menemukan seorang pria yang begitu luar biasa. Aku berharap dialah pria
yang akan menemani hidupku untuk salamanya. Sungguh ini menjadi kebahagiaan
yang luar biasa. Kami kembali berjalan mengitari pantai sambil berpegangnya
tangan. Pantai ini menjadi saksi bersatunya kami menjadi sepasang kekasih. Perjalanan
pertama ku ke pulau ini ternyata telah direncanakan oleh tuhan yang
mempertemukan ku dengan pria yang sedang tersenyum disampingku ini. Terima
kasih, tuhan, aku begitu bahagia…
The
End