SIRI' NA PACCE DI KALANGAN REMAJA MAKASSAR
Bab 1
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dewasa ini bangsa Indonesia berada dalam era modernisasi dan
globalisasi. Arus informasi yang begitu cepat merambah keberbagai lapisan
masyarakat dan tidak terkecuali kaum remaja, sehingga berbagai budaya dari luar
dapat merubah pola pikir dan cara pandang mereka dalam berbuat dan bertingkah
laku. Berbagai aspirasi dan kepentingan baik individu maupun kelompok
banyak yang tersalurkan tidak sesuai dengan norma-norma hukum dan etika
yang menjunjung nilai-nilai budaya dan harkat sebagai manusia.
Pemahaman masyarakat akan nilai – nilai budaya sipakatau,
siri’ na pacce hampir terabaikan, seiring dengan perkembangan zaman. Terkadang
perbuatan yang kurang menghargai dan menghormati harkat seseorang sebagai
manusia, tidak diindahkan dan dianggap wajar – wajar saja,
hal ini akan mengarah kepada perilaku yang melanggar etika dan
moral dalam bermasyarakat, sehingga dikhawatirkan para generasi muda akan
kehilangan jati diri sebagai orang Bugis Makassar yang sangat menghargai dan
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Secara umum dapat digambarkan
bahwa pandangan orang-orang Bugis atau Makassar terhadap sirik dan
masalah-masalah penyelesaian Sirik itu, hakekatnya sama saja. Begitu pula
dengan masalah-masalah adat-istiadat sebagai warisan leluhur mereka yang satu.
(bersumber dari satu rumpun asal usul).
B. RUMUSAN MASALAH
a)
Apa itu SIRIK NA
PACCE/PESSE?
b)
Bagaimana Penerapan
Budaya Sirik Na Pacce pada kalangan masyrakat Makassar.
c)
Apa itu SIPAKATAU?
d)
Bagaimana Penerapan Budaya
Sipakatau pada kalangan Remaja.
C. TUJUAN PENULISAN
Agar mayarakat, khusunya para remaja bisa
lebih mengetahui dan mengerti nilai-nilai luhur masyarakat Bugis Makassar serta
menjujung tinggi nilai-nilai lihur budaya tersebut.
D. MANFAAT PENULISAN
untuk mengetahui nilai-nilai luhur budaya Bugis-Makassar.
E. METODE PENULISAN
Penulisan
nilai-nilai luhur budayah Bugis-Makassar ini dalam bentuk makalah, metode yang
digunakan dalam mengumpulkan data yaitu dari buku-buku mengenai budaya
Bugis-Makassar dan data dari internet serta terjun langsung dan melihat
kehidupan sehari-hari masyarakat Bugi-Makassar yang ada dilingkungan tempat
tinggal kami dan juga Masyrakat kota Makassar serta kab. Gowa . Sehingga
apabilah dalam penulisan makalah ini ada kata-kata atau kalimat yang hampir
sama dari sumber atau penulis lain harap dimaklumi dan merupakan unsur ketidak
sengajaan kami.
Bab 2
Pembahasan
1.
SIRIK NA PACCE/PESSE
a.
Pengertian Sirik Na Pacce
Orang-orang Bugis-Makassar mengutamakan sifat-sifat
Harga diri dan kesetia kawanan (loyalitas), yang di nilai sebagai unsur Sirik
dan Pacce atau passe.
Sirik adalah kebanggaan atau keagungan
harga diri . Bagi orang-orang suku Bugis-Makassar diwariskan amanah oleh
leluhurnya untuk menjunjung tinggi adat-istiadatnya yang didalamnya terpatri
pula sendi-sendi sirik tersebut.
Manakala harga diri tersebut disinggung yang
karenanya melahirkan aspek-aspek sirik,maka diwajibkan bagi yang tertimpa Sirik
itu untuk Melakukan aksi-aksi tantangan. Dapat berupa aksi (perlawanan)
seseorang atau aksi (perlawanan) kelompok masing-masing.Terserah pada mutu
nilai Sirik yang timbul sebagai ekses-ekses (kejadian bermasalah) kasus yang
lahir karenanya.
Bagi pihak-pihak yang terkena Sirik tetapi hanya
diam (tanpa aksi-aksi perlawanan) dijuluki sebagai: tau tena Sirikna (tak punya
rasa malu atau tak punya hargadiri). Atau dalam bahasa Bugis diungkapkan
sebagai tau kurang Sirik (orang yang tak ada harga diri).
Dalam hal-hal mencapai tujuan, orang-orang Makassar
berpegang semboyan Kualleangnga tallanga na-towalia (sekali layar terkembang
pantang biduk surut ke pantai),semboyan ini memanifestasiakan bahwa orang-orang
Bugis-Makssar itu tabah menghadapi tantangan-tantangan hidup. Tabah menghadapi
segala jenis cobaan-cobaan yang datang bertubi-tubi menimpa. Hal ini erat pula
hubungannya dengan perjuangan-perjuangan hidup orang-orang Bugis-Makassar
sebagai pelaut-pelaut.
Sebagaimana sejarah mengajarkan, bahwa oaring-oarang
Bugis-Makassar adalah pelaut-pelaut yang ulung yang berlayar mengarungi selat
Malaka sampai kepulauan Makassar. Yang kemudian melahirkan ammana Gappa
yang terkenal sebagai penyusun ilmu pelayaran (ahli pelayaran) orang-orang
Bugis pada zamannya.
Pacce dan pesse adalah suatu perasaan yang
menyayat hati, pilu bagaikan tersayat sembilu apabila sesama warga masyarakat
ditimba kemalangan (musibah). Perasaan yang demikian ini merupakan suatu
pendorong kearah solidaritas dalam berbagai bentuk terhadap mereka yang dulunya
ditimpa kemalangan itu seperti diperkosa dan sebagainya, maka dapat disimpulkan
bahwa sirik atau pacce atau pesse tersebut adalah sama tetapi
yang terakhir ini lebih rendah tingkatannya.
b.
Penerapan Budaya Sirik na Pacce di
Masyarakat
Budaya Sirik na Pacce pada kalangan masyarakat
Bugis-Makassar tidak lagi tertanam kuat pada Masyarakat perkotaan, Sebagaimana
diantara mereka banyak yang melakukan hal-hal yang bisa dikatakan sangat
memalukan dirinya sendiri dan keluarga. Misalnya pada pakaian yang sering atau
kebanyakan masyarakat kota kenakan yang notabene adalah pakaian hasil tiruan
dari budaya barat, dimana telah kita ketahui bahwa kebanyakan dari
pakaian-pakaian tersebut adalah pakaian yang terbuka. Hal tersebut menunjukan
bahwa mereka tidak memiliki rasa malu sebagai mana yang terkandung dalam
nilai-nilai luhur budaya Sirik na Pacce.
Hal itu disebabkan oleh perkembangan zaman dan arus
informamasi yang begitu cepat membuat budaya-budaya barat dengan gampangnya diterima
oleh masyarakat perkotaan sehingga mereka dengan mudahnya meninggalkan budaya
luhur mereka dan jati diri mereka sebagai orang Bugis Makassar.
Berbeda
halnya pada masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan pedalaman serta
daerah-daerah primitif yang belum tersentuh oleh budaya-budaya luar, mereka masih
sangat menjunjung tinggi budaya Sirik na Pacce dalam kehidupan mereka.
2.
Sipakatau
a. Pengertian Budaya Sipakatau
Budaya sipakatau’ di kalangan masyarakat
di Sulawesi Selatan merupakan norma–norma atau aturan dalam berbuat dan
berprilaku. Budaya ini apabila dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari –
sehari akan berpengaruh positif dan memotivasi individu maupun kelompok untuk
saling menghargai dan menghormati orang lain sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai manusia. Sehingga permasalahan dalam kehidupan
bermasyarakat yang menyangkut pelanggaran norma–norma sosial akan terkendali.
Oleh karena itu, melalui lomba karya tulis ilmiah tentang budaya sipakatau
dirasakan sangat penting, dimana nilai – nilai positif yang terkandung di
dalamnya perlu diungkapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari baik
di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Sesungguhnya budaya Makassar mengandung
esensi nilai luhur yang universal, namun kurang teraktualisasi secara sadar dan
dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita menelusuri secara mendalam,
dapat ditemukan bahwa hakikat inti kebudayaan Makassar itu sebenarnya adalah
bertitik sentral pada konsepsi mengenai “tau” 11) (manusia), yang manusia dalam
konteks ini, dalam pergaulan sosial, amat dijunjung tinggi keberadaannya.
Dari konsep “tau” inilah sebagai esensi
pokok yang mendasari pandangan hidup orang Makassar, yang melahirkan
penghargaan atas sesama manusia. Bentuk penghargaan itu dimanifestasikan
melalui sikap budaya “sipakatau”. Artinya, saling memahami dan menghargai
secara manusiawi.
Dengan pendekatan sipakatau, maka
kehidupan orang Makassar dapat mencapaui keharmonisan, dan memungkinkan segala
kegiatan kemasyarakatan berjalan dengan sewajarnya sesuai hakikat martabat
manusia. Seluruh perbedaan derajat sosial tercairkan, turunan bangsawan dan
rakyat biasa, dan sebagainya. Yang dinilai atas diri seseorang adalah
kepribadiannya yang dilandasi sifat budaya manusiawinya.
Sikap Budaya Sipakatau dalam kehidupan
orang Makassar dijabarkan ke dalam konsepsi Sirik na Pacce. Dengan menegakkan prinsip Sirik na Pacce
secara positif, berarti seseorang telah meneapkan sikap Sipakatau dalam
kehidupan pergaulan kemasyarakatan. Hanya dalam lingkunagn orang-orang yang
menghayati dan mampu mengamalkan sikap hidup Sipakatau yang dapat secara
terbuka saling menerima hubungan kekerabatan dan kekeluargaan.
Sipakatau dalam kegiatan ekonomi, sangat
mencela adanya kegiatan yang selalu hendak “annunggalengi” (egois), atau
memonopoli lapangan hidup yang terbuka secara kodrati bagi setiap manusia. Azas
Sipakatau akan menciptakan iklim yang terbuka untuk saling “sikatallassi”
(saling menghidupi), tolong-menolong, dan bekerjasama membangun kehidupan
ekonomi masyarakat secara adil dan merata. 12)
Demikianlah Sipakatau menjadi nilai etika
pergaualan orang Makassar yang patut diaktualisasikan di segala sektor
kehidupan. Di tengah pengaruh budaya asing cenderung menenggelamkan penghargaan
atas sesama manusia, maka sikap Sipakatau merupakan suatu kendali moral yang
harus senantiasa menjadi landasan. Hal itu meningkatkan budaya Sipakatau juga
merupakan yuntunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan azas
Pancasila, terutama Sila Ketiga yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
b. Penerapan Budaya Sipakatau di Kalangan
Remaja
Perkembangan zaman dan arus informasi yang
begitu cepat yang menyebabkan masuknya berbagai budaya dari luar sehingga
budaya sipakatau ini terabaikan. Sikap egois dan mau menang sendiri dalam
berbagai aspek kehidupan akan menimbulkan gejolak sosial dalam masyarakat yang
bersangkutan. Dan di lain pihak, pergeseran – pergeseran ini akan menipiskan
akhlak, moral dan kepribadian bangsa.
Generasi muda khususnya kaum remaja yang
masih duduk dibangku sekolah, belum memahami dan belum efektif menerapkan
budaya sipakatu ini dalam kehidupan maupun dalam pergaulan. Oleh sebab itu,
bagaimana budaya sipakatau dapat merubah perilaku mereka untuk selalu
menghargai dan menghormati harkat dan martabat orang lain baik
dalam pergaulan dilingkungan sekolah, keluarga maupun dalam
masyarakat yang majemuk.
Budaya sipakatau dikalangan remaja dewasa
ini sering terabaikan. Rambu – rambu ini dengan mudah dilanggar hanya
untuk memenuhi keinginan dan kepentingan pribadi atau kelompok. Rasa kemanusian
terkadang terabaikan hanya untuk memenuhi keegoan seseorang atau sekelompok
orang, dengan menghargai dan menghormati harkat dan martabat orang lain
sebagai manusia, maka pada dasarnya akan mengangkat harkat dan martabat
dirinya sebagai manusia seutuhnya. Menghargai dan menghormati hak-hak
orang lain dapat mencegah untuk berbuat dan berprilaku yang melanggar
aturan atau hukum.
Bab 3
Kesimpulan Dan Saran
1.
Kesimpulan
Siri’ adalah rasa malu yang terurai dalam
dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia, rasa dendam ( dalam hal-hal yang
berkaitan dengan kerangka pemulihan harga diri yang dipermalukan ).
Jadi Siri’ adalah sesuatu yang tabu bagi masyarakat
Bugis-Makassar dalam interaksi dengan orang lain. Sedangkan pacce/pesse
merupakan konsep yang membuat suku ini mampu menjaga solidaritas kelompok dan
mampu bertahan di perantauan serta disegani.
Pacce/pesse merupakan sifat belas kasih dan perasaan
menanggung beban dan penderitaan orang lain, meskipun berlainan suku dan ras.
Jadi, kalau pepatah Indonesia mengatakan “ Ringan sama dijinjing, berat sama
dipikul ”.
budaya
“sipakatau”. Artinya, saling memahami dan menghargai secara manusiawi.
Nilai-Nilai
Luhur Budaya Sipakatau telah banyak di tinggalkan oleh masyarakat khusunya
perkotaan dikarenakan karena masuknya budaya barat dengan cepat .
2. Saran
Kepada
Masyarakat Indonesia khususnya
masyarakat makassar untuk tetap menjujung tinggi nilai-nilai luhur
budaya dari daerahnya. Karena sesungguhnya itulah yang menunjukan jati diri
mereka sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar