Sabtu, 17 November 2012

REVIEW : ANTHROPOLOGY AND ARCHAEOLOGY A CHANGING RELATIONSHIP (BAB 1)


PENGANTAR ANTROPOLOGI
TUGAS REVIEW
REVIEW BUKU :
ANTHROPOLOGY AND ARCHAEOLOGY
A CHANGING RELATIONSHIP – CHRIS GOSDEN
                                                                       BAB 1 :
ANTHROPOLOGICAL ARCHAEOLOGY AND ARCHAEOLOGICAL
ANTHROPOLOGY 





OLEH :
                                    NAMA            : NURUL ADLIYAH PURNAMASARI
                                    NIM                : F61112003

JURUSAN ARKEOLOGI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2012



REVIEW BUKU
Judul Buku      : Anthropology and Archaeology a Changing Relationship-BAB I
Pengarang       : Chris Gosden
Tahun Terbit    : 1999
Penerbit           :  Routlegde
A.    Ide-Ide Pokok
Anthropology and Archaeology a Changing Relationship ialah sebuah buku karya Chris Gosden, yang di terbitkan oleh penerbit Routledge pada tahun 1999. Bab I pada  buku yang berbahasa Inggris tersebut yang berjudul Anthropological Archaeology and Archaeological Anthropology membahas mengenai kaitan dan hubungan Ilmu Antropologi dan Ilmu Arkeologi.
Pada buku ini dijelaskan bahwa Arkeologi merupakan bagian luas dari sebuah ilmu yang mempelajari kebudayaan masa lalu berdasarkan bukti-bukti material untuk mengungkap asal dari kehidupan sekarang dengan cara penggalian, analisis bukti arkeologi, atau mempelajari aspek tubuh eksistensi manusia. sedangkan antropologi membahas mengenai semua aspek kehidupan, masa lalu hingga sekarang dengan menggunakan observasi.
Oleh Karena itu beberapa Tokoh yang mengungkapkan pendapat yang mengatakan bahwa arkeologi dan antropologi sangat berkaitan, contohnya Philips yang berpendapat bahwa “kombinasi antara antropologi dan arkeologi di butuhkan untuk mengetahui sejarah budaya lokal”. Hal ini pun disetujui oleh Binford, yang dalam artikelnya menuliskan bahwa “antropologi sebagai arkeologi” dan mengatakan arkeologi bisa berpartisipasi dalam studi evolusi budaya manusia. Beliau juga berpandangan, Arkeologi mampu melihat sejarah manusia.

Bertentangan dengan hal tersebut,  Sablof memberikan pendapat bahwa antropologi pada dasarnya merupakan suatu disiplin generalisasi dan komperatif, yang tujuan utamanya adalah untuk memahami dan menjelaskan proses yang mendasari perubahan kebudayaan.
Hal itu pun disetujui oleh seorang tokoh yang mengatakan “apakah arkeologi mampu menggali sistem kekerabatan ?”
Di Amerika Serikat, arkeologi diajarkan sebagai salah satu dari empat sub-disiplin ilmu dalam antropologi; tiga yang lainnya adalah antropologi fisik (studi tentang evolusi manusia), antropologi budaya (studi tentang kultur-kultur yang masih hidup) dan linguistik (studi tentang bahasa).
Sendangkan Di Inggris semua hal tersebut diajarkan secara terpisah.  antropologi dan arkeologi memiliki subyek penelitian yang sama, yaitu studi kemanusiaan dalam segala perbedaannya, melalui historisnya masing-masing, di sepanjang dunia. Arkeologi biasa dikenal dan didefinisikan oleh aktivitasnya: penggalian. Fokusnya adalah menemukan kembali obyek-obyek dan menganalisa tentang apa yang dikisahkan oleh obyek-obyek tersebut tentang gaya hidup orang-orang yang menggunakannya. Dalam pengertian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara teknis, para antropolog mempelajari kultur-kultur yang masih hidup, sementara para arkeolog mempelajari budaya-budaya di masa lampau melalui subyek-subyek yang masih ada.
Berbagai hal yang menyebabkan banyaknya orang-orang yang berpendapat bahwa arkeologi tidak pernah sama dengan antropologi.
Padahal, jika dilihat dari segi Ilmu pengetahuan, Arkeologi dan Antropologi telah tumpang tindih materi pelajaran, sehingga ide-ide dan bukti dari satu ide dapat memberikan ke yang lainnya. Keduanya Ilmu tesebut juga telah terhubung dan dipengaruhi oleh sejarah dan perkembangan.
Hal tersebutlah yang membuat Kedua ilmu tersebut, saling membutuhkan, antropologi sangat membutuhkan antropologi. Begitupun sebaliknya arkeologi juga sangat membutuhkan antropologi.

B.     Tanggapan Tentang Hubungan Antropologi dan Arkeologi

Antropologi dan Arkeologi ialah dua ilmu pengetahuan yang saling membutuhkan. Dimana, antropologi membutuhkan arkeologi untuk mengungkap asal dari kebudayaan yang ada sekarang ini yang memang merupakan hal yang dibahas di ilmu antropologi
Sedangkan, arkeologi membutuhkan cabang-cabang ilmu antropologi untuk menentukan hasil dari pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh para arkeolog.

C.     Pendapat Tentang Hubungan Antropologi dan Arkeologi
Dari sebuah website :
"Pada dasarnya arkeologi bertujuan menyingkap sejarah kebudayaan manusia dari mulai kebudayaan kuno pada jaman purba seperti kebudayaan Mesopotamia dan kebudayaan Mesir Kuno. Di Indonesia, Arkeologi memfokuskan perhatiannya kepada kebudayaan di Indonesia pada masa Hindu yang hidup sekitar abad ke 4 hingga abad ke 16. Hasil penelitian arkeologi terhadap bahan bekas reruntuhan atau alat-alat peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia adalah sebuah deskripsi sejarah manusia yang kemudian dapat digunakan oleh antropologi sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah asal-mula makhluk manusia. Dilihat dari batasan kajiannya, antropologi terlihat lebih luas karena tidak hanya memfokuskan pada benda-benda peninggalan (artefak) saja, melainkan juga pada sistem ide (gagasan dan sistem tingkah laku) Kesulitan di dalam merekonstruksi kembali kehidupan dan persebaran kebudayaan, antropologi dan ilmu sejarah saling bertukar metode dan teori untuk lebih dapatmemahami masyarakat pada umumnya. Begitu pula penggambaran tentang hasil penelitian keduanya bisa saling melengkapi sesuai bagi tujuan tertentu "

UPACARA RAMBU SOLOK PADA MASYARAKAT TORAJA


-TUGAS SOSIOLOGI-

Topik : Upacara Pemakaman Masyarakat Toraja
Judul : Upacara Rambu Solok , Upacara Termahal di Indonesia

LATAR BELAKANG
Siapa yang tak kenal dengan Toraja, negeri dengan begitu banyak adat istiadat dan tempat tujuan wisata yang sangat indah. Toraja, berjarak 300 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan, menyimpan berbagai macam adat dan budaya leluhur yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dan tetap lestari hingga kini.
Setiap keturunan suku Toraja, di manapun berada, wajib menjunjung tinggi akar budaya nenek moyang mereka. Hingga kini, anak cucu keturunan suku Toraja yang berada di luar negeri dan berbagai wilayah di Indonesia, akan tetap melakukan tradisi yang sama yang dilakukan oleh nenek moyang mereka ribuan tahun yang lalu.
Ketaatan mereka dalam menjalankan adat istiadat dan budaya peninggalan nenek moyang mereka hingga kini, menarik banyak wisatawan asing dan dalam negeri untuk mengunjungi Tana Toraja dan Toraja Utara setiap tahunnya. Toraja, kini menjadi salah satu daerah wisata andalan yang dimiliki oleh Sulawesi Selatan. Berbagai upacara adat yang dimiliki oleh Tana Toraja dan diselenggarakan setiap tahun, menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan asing.
Di karenakan karena Ketidakpastian akan misteri kehidupan setelah mati, menciptakan kekhawatiran akan nasib si mati di alam baka. Di dataran tinggi Tana Toraja dan Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, upaya untuk menguak misteri itu telah menciptakan sebuah prosesi religius yang begitu rumit, kompleks, dan memakan banyak tenaga serta biaya. Masyarakat Toraja menyebutnya dengan Upacara Rambu Solok.
Ritual itu dikenal sebagai upacara pengantar jenazah seseorang ke penguburan.
Meski hanya sebuah ritual kematian, penyelenggaraan upacara itu layaknya sebuah pesta besar. Sebab, puluhan ekor kerbau dan babi mesti dikorbankan dengan melibatkan massa secara kolosal dan membutuhkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.
Jika mengikuti tata cara Aluk To Dolo, upacara Rambu Solok sebenarnya adalah upacara yang rumit dan kompleks. Namun, sejak masuknya agama Kristen, Katolik, dan Islam, beberapa bagian prosesi telah dihilangkan.
PEMBAHASAN
Ada berbagai upacara adat di Toraja, salah satunya adalah Rambu Solo, upacara pemakaman leluhur yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya.
Upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ diiringi dengan seni tari dan musik khas Toraja selama berhari-hari. Rambu Tuka’ adalah upacara memasuki rumah adat baru yang disebut Tongkonan atau rumah yang selesai direnovasi satu kali dalam 50 atau 60 tahun. Upacara ini dikenal juga dengan nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.
Sementara itu, Rambu Solo’ sepintas seperti pesta besar. Padahal, merupakan prosesi pemakaman. Dalam adat Toraja, keluarga yang ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal. Orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit sehingga harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, dan minuman, serta rokok atau sirih.
Tidak hanya ritual adat yang dijumpai dalam upacara Rambu Solo’. Berbagai kegiatan budaya menarik pun ikut dipertontonkan, antara lain Mapasilaga Tedong (adu kerbau) dan Sisemba (adu kaki).
Rambu Solo’ akan semakin meriah jika yang meninggal adalah keturunan raja atau orang kaya. Jumlah kerbau dan babi yang disembelih menjadi ukuran tingkat kekayaan dan derajat mereka saat masih hidup. Di Rantepao, Anda bisa menyaksikan upacara Rambu Solo yang meriah.
Pembangunan makan bagi keluarga yang meninggal dan penyelenggaraan Rambu Solo’ biasanya menelan dana ratusa juta rupiah hingga miliaran. Tak heran, karena banyak sekali ritual adat yang harus mereka jalankan dalam prosesi pemakaman tersebut.
Salah satu Rambu Solo’ yang besar, berlangsung hingga tujuh hari lamanya. Yang seperti itu disebut Dipapitung Bongi. Hewan yang harus dipotong saja tak kurang dari 150 ekor, yang terdiri dari kerbau dan babi. Dagingnya akan mereka bagikan kepada penduduk desa sekitar yang membantu proses Rambu Solo’.
secara umum, ada empat bagian prosesi yang masih terus dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan penguburan.
Upacara Mapalao adalah ritual untuk membawa jenazah ke pusat prosesi, yaitu di rumah adat Tongkonan. Mapalao dilakukan dengan mengarak keranda jenazah dari rumah tinggal menuju Tongkonan keluarga. Di sanalah, jenazah disemayamkan sementara waktu di sebuah Lakean yang terletak di ujung Tongkonan.
Usai upacara Mapalao, keluarga menerima kedatangan para tamu untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. Bunyi lesung yang ditabuh sejumlah wanita menjadi pertanda ada tamu yang datang.
Para tamu datang dalam kelompok-kelompok keluarga dengan membawa hewan seperti kerbau dan babi untuk disumbangkan. Setiap kali rombongan tamu tiba, tuan rumah segera membawa mereka ke Lantang dan menyediakan hidangan. Di saat yang sama, alunan kidung kesedihan dari penari Renteng sengaja dilantunkan untuk menggambarkan sejarah hidup almarhum.

Proses yang agak rumit terjadi saat upacara penyembelihan kerbau. Sebab, hewan yang telah diterima keluarga, baik dari sumbangan maupun keluarga sendiri akan dihitung oleh panitia yang terdiri dari keluarga, aparat desa, dan masyarakat adat. Dalam proses ini, sering terjadi negosiasi yang alot.
Terkadang, protes datang karena ketakpuasan soal jumlah kerbau yang harus disembelih. Namun, kesepakatan akhir tetap harus terjadi, tak peduli proses negosiasi berakhir dengan protes. Di depan Tongkonan dan keranda jenazah, satu demi satu tebasan pedang para penjagal mengakhiri ajal sang kerbau.
Setelah semua rangkaian upacara telah dilewati maka saatnya dilakukan penguburan. Masyarakat Toraja mempunyai tradisi unik dalam mengubur orang yang telah mati. Penguburan tak dilakukan di tanah, tapi di goa-goa alam yang terletak di tebing-tebing pegunungan. Bahkan, mereka meyakini bahwa semakin menantang proses penguburan maka semakin tinggi pula derajat keluarga yang meninggal.
Akhirnya, sebuah prosesi penguburan yang sangat berbahaya dilakukan. Mulai dari kelincahan, keberanian, serta dorongan keyakinan spiritual. Terkadang, nyawa harus dipertaruhkan dalam proses penguburan ini. Semuanya dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa yang diperbuat akan membahagiakan leluhur yang telah meninggal.

KESIMPULAN
            Upacara rambu solok adalah upacara yang memakan biaya yang besar, yang di lakukan untuk menghargai atau sebagai penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal. Upacara tersebut di lakasanakan selama 7 hari berturut-turut. secara umum, ada empat bagian prosesi yang masih terus dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan penguburan.

SARAN
            Kepada para siswa sebagai generasi penerus cita-cita serta penjujung tradisi dan kebudayaan Bangsa Indonesia di masa depan agar bisa lebih menghargai dan menjujung tinggi budaya dan tradisi dari nenek moyang serta melestarikannya dan memperlihatkannya di mata Internasional .



-Tugas Akhir Penelitian Sosiologi di SMA-


SIRI' NA PACCE DI KALANGAN REMAJA MAKASSAR


Bab 1
Pendahuluan
A.   Latar Belakang
Dewasa ini bangsa Indonesia berada dalam era modernisasi dan globalisasi. Arus informasi yang begitu cepat merambah keberbagai lapisan masyarakat dan tidak terkecuali kaum remaja, sehingga berbagai budaya dari luar dapat merubah pola pikir dan cara pandang mereka dalam berbuat dan bertingkah laku. Berbagai aspirasi dan kepentingan  baik individu maupun kelompok banyak yang tersalurkan  tidak sesuai dengan norma-norma hukum dan etika yang menjunjung nilai-nilai budaya dan harkat sebagai manusia.
Pemahaman masyarakat akan nilai – nilai budaya sipakatau, siri’ na pacce hampir terabaikan, seiring dengan perkembangan zaman. Terkadang perbuatan yang kurang menghargai dan menghormati harkat seseorang sebagai manusia, tidak diindahkan dan  dianggap  wajar – wajar saja,  hal ini akan  mengarah kepada perilaku yang melanggar etika dan  moral dalam  bermasyarakat, sehingga dikhawatirkan para generasi muda akan kehilangan jati diri sebagai orang Bugis Makassar yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Secara umum dapat digambarkan bahwa pandangan orang-orang Bugis atau Makassar terhadap sirik dan masalah-masalah penyelesaian Sirik itu, hakekatnya sama saja. Begitu pula dengan masalah-masalah adat-istiadat sebagai warisan leluhur mereka yang satu. (bersumber dari satu rumpun asal usul).
B. RUMUSAN MASALAH
a)      Apa itu SIRIK NA PACCE/PESSE?
b)      Bagaimana Penerapan Budaya Sirik Na Pacce pada kalangan masyrakat Makassar.
c)      Apa itu SIPAKATAU?
d)     Bagaimana Penerapan Budaya Sipakatau pada kalangan Remaja.
C. TUJUAN PENULISAN
            Agar mayarakat, khusunya para remaja bisa lebih mengetahui dan mengerti nilai-nilai luhur masyarakat Bugis Makassar serta menjujung tinggi nilai-nilai lihur budaya tersebut.
D. MANFAAT PENULISAN
untuk mengetahui nilai-nilai luhur budaya Bugis-Makassar.
E. METODE PENULISAN
Penulisan nilai-nilai luhur budayah Bugis-Makassar ini dalam bentuk makalah, metode yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu dari buku-buku mengenai budaya Bugis-Makassar dan data dari internet serta terjun langsung dan melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Bugi-Makassar yang ada dilingkungan tempat tinggal kami dan juga Masyrakat kota Makassar serta kab. Gowa . Sehingga apabilah dalam penulisan makalah ini ada kata-kata atau kalimat yang hampir sama dari sumber atau penulis lain harap dimaklumi dan merupakan unsur ketidak sengajaan kami.














Bab 2
Pembahasan
1.         SIRIK NA PACCE/PESSE
a.         Pengertian Sirik Na Pacce
Orang-orang Bugis-Makassar mengutamakan sifat-sifat Harga diri dan kesetia kawanan (loyalitas), yang di nilai sebagai unsur Sirik dan Pacce atau passe.
Sirik adalah kebanggaan atau keagungan harga diri . Bagi orang-orang suku Bugis-Makassar diwariskan amanah oleh leluhurnya untuk menjunjung tinggi adat-istiadatnya yang didalamnya terpatri pula sendi-sendi sirik tersebut.
Manakala harga diri tersebut disinggung yang karenanya melahirkan aspek-aspek sirik,maka diwajibkan bagi yang tertimpa Sirik itu untuk Melakukan aksi-aksi tantangan. Dapat berupa aksi (perlawanan) seseorang atau aksi (perlawanan) kelompok masing-masing.Terserah pada mutu nilai Sirik yang timbul sebagai ekses-ekses (kejadian bermasalah) kasus yang lahir karenanya.
Bagi pihak-pihak yang terkena Sirik tetapi hanya diam (tanpa aksi-aksi perlawanan) dijuluki sebagai: tau tena Sirikna (tak punya rasa malu atau tak punya hargadiri). Atau dalam bahasa Bugis diungkapkan sebagai tau kurang Sirik (orang yang tak ada harga diri).
Dalam hal-hal mencapai tujuan, orang-orang Makassar berpegang semboyan Kualleangnga tallanga na-towalia (sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai),semboyan ini memanifestasiakan bahwa orang-orang Bugis-Makssar itu tabah menghadapi tantangan-tantangan hidup. Tabah menghadapi segala jenis cobaan-cobaan yang datang bertubi-tubi menimpa. Hal ini erat pula hubungannya dengan perjuangan-perjuangan hidup orang-orang Bugis-Makassar sebagai pelaut-pelaut.
Sebagaimana sejarah mengajarkan, bahwa oaring-oarang Bugis-Makassar adalah pelaut-pelaut yang ulung yang berlayar mengarungi selat Malaka sampai kepulauan Makassar. Yang kemudian melahirkan ammana Gappa yang terkenal sebagai penyusun ilmu pelayaran (ahli pelayaran) orang-orang Bugis pada zamannya.
Pacce dan pesse adalah suatu perasaan yang menyayat hati, pilu bagaikan tersayat sembilu apabila sesama warga masyarakat ditimba kemalangan (musibah). Perasaan yang demikian ini merupakan suatu pendorong kearah solidaritas dalam berbagai bentuk terhadap mereka yang dulunya ditimpa kemalangan itu seperti diperkosa dan sebagainya, maka dapat disimpulkan bahwa sirik atau pacce atau pesse tersebut adalah sama tetapi yang terakhir ini lebih rendah tingkatannya.
b.      Penerapan Budaya Sirik na Pacce di Masyarakat
Budaya Sirik na Pacce pada kalangan masyarakat Bugis-Makassar tidak lagi tertanam kuat pada Masyarakat perkotaan, Sebagaimana diantara mereka banyak yang melakukan hal-hal yang bisa dikatakan sangat memalukan dirinya sendiri dan keluarga. Misalnya pada pakaian yang sering atau kebanyakan masyarakat kota kenakan yang notabene adalah pakaian hasil tiruan dari budaya barat, dimana telah kita ketahui bahwa kebanyakan dari pakaian-pakaian tersebut adalah pakaian yang terbuka. Hal tersebut menunjukan bahwa mereka tidak memiliki rasa malu sebagai mana yang terkandung dalam nilai-nilai luhur budaya Sirik na Pacce.
Hal itu disebabkan oleh perkembangan zaman dan arus informamasi yang begitu cepat membuat budaya-budaya barat dengan gampangnya diterima oleh masyarakat perkotaan sehingga mereka dengan mudahnya meninggalkan budaya luhur mereka dan jati diri mereka sebagai orang Bugis Makassar.
 Berbeda halnya pada masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan pedalaman serta daerah-daerah primitif yang belum tersentuh oleh budaya-budaya luar, mereka masih sangat menjunjung tinggi budaya Sirik na Pacce dalam kehidupan mereka.
2.         Sipakatau
a.      Pengertian Budaya Sipakatau
Budaya sipakatau’ di kalangan masyarakat di Sulawesi Selatan merupakan norma–norma atau aturan dalam berbuat dan berprilaku. Budaya ini apabila dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari – sehari akan berpengaruh positif dan memotivasi individu maupun kelompok untuk saling menghargai dan menghormati orang lain sesuai dengan harkat dan  martabatnya sebagai manusia. Sehingga permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat yang menyangkut pelanggaran norma–norma sosial akan terkendali. Oleh karena itu, melalui lomba karya tulis ilmiah tentang budaya sipakatau dirasakan sangat penting, dimana  nilai – nilai positif yang terkandung di dalamnya perlu diungkapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Sesungguhnya budaya Makassar mengandung esensi nilai luhur yang universal, namun kurang teraktualisasi secara sadar dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita menelusuri secara mendalam, dapat ditemukan bahwa hakikat inti kebudayaan Makassar itu sebenarnya adalah bertitik sentral pada konsepsi mengenai “tau” 11) (manusia), yang manusia dalam konteks ini, dalam pergaulan sosial, amat dijunjung tinggi keberadaannya.
Dari konsep “tau” inilah sebagai esensi pokok yang mendasari pandangan hidup orang Makassar, yang melahirkan penghargaan atas sesama manusia. Bentuk penghargaan itu dimanifestasikan melalui sikap budaya “sipakatau”. Artinya, saling memahami dan menghargai secara manusiawi.
Dengan pendekatan sipakatau, maka kehidupan orang Makassar dapat mencapaui keharmonisan, dan memungkinkan segala kegiatan kemasyarakatan berjalan dengan sewajarnya sesuai hakikat martabat manusia. Seluruh perbedaan derajat sosial tercairkan, turunan bangsawan dan rakyat biasa, dan sebagainya. Yang dinilai atas diri seseorang adalah kepribadiannya yang dilandasi sifat budaya manusiawinya.
Sikap Budaya Sipakatau dalam kehidupan orang Makassar dijabarkan ke dalam konsepsi Sirik na Pacce.  Dengan menegakkan prinsip Sirik na Pacce secara positif, berarti seseorang telah meneapkan sikap Sipakatau dalam kehidupan pergaulan kemasyarakatan. Hanya dalam lingkunagn orang-orang yang menghayati dan mampu mengamalkan sikap hidup Sipakatau yang dapat secara terbuka saling menerima hubungan kekerabatan dan kekeluargaan.
Sipakatau dalam kegiatan ekonomi, sangat mencela adanya kegiatan yang selalu hendak “annunggalengi” (egois), atau memonopoli lapangan hidup yang terbuka secara kodrati bagi setiap manusia. Azas Sipakatau akan menciptakan iklim yang terbuka untuk saling “sikatallassi” (saling menghidupi), tolong-menolong, dan bekerjasama membangun kehidupan ekonomi masyarakat secara adil dan merata. 12)
Demikianlah Sipakatau menjadi nilai etika pergaualan orang Makassar yang patut diaktualisasikan di segala sektor kehidupan. Di tengah pengaruh budaya asing cenderung menenggelamkan penghargaan atas sesama manusia, maka sikap Sipakatau merupakan suatu kendali moral yang harus senantiasa menjadi landasan. Hal itu meningkatkan budaya Sipakatau juga merupakan yuntunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan azas Pancasila, terutama Sila Ketiga yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
b.      Penerapan Budaya Sipakatau di Kalangan Remaja
Perkembangan zaman dan arus informasi yang begitu cepat yang menyebabkan masuknya berbagai budaya dari luar sehingga budaya sipakatau ini terabaikan. Sikap egois dan mau menang sendiri dalam berbagai aspek kehidupan akan menimbulkan gejolak sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Dan di lain pihak, pergeseran – pergeseran ini akan menipiskan akhlak, moral dan kepribadian bangsa.
Generasi muda khususnya kaum remaja yang masih duduk dibangku sekolah, belum memahami dan belum efektif menerapkan budaya sipakatu ini dalam kehidupan maupun dalam pergaulan. Oleh sebab itu, bagaimana budaya sipakatau dapat merubah perilaku mereka untuk selalu menghargai dan menghormati harkat dan  martabat orang lain  baik dalam pergaulan  dilingkungan sekolah, keluarga maupun dalam  masyarakat  yang majemuk.
Budaya sipakatau dikalangan remaja dewasa ini sering terabaikan.  Rambu – rambu ini dengan mudah dilanggar hanya untuk memenuhi keinginan dan kepentingan pribadi atau kelompok. Rasa kemanusian terkadang terabaikan hanya untuk memenuhi keegoan seseorang atau sekelompok orang,  dengan menghargai dan menghormati harkat dan martabat orang lain sebagai manusia,  maka pada dasarnya akan mengangkat harkat dan martabat dirinya sebagai manusia seutuhnya.  Menghargai dan menghormati hak-hak orang lain  dapat mencegah untuk berbuat dan berprilaku yang melanggar aturan atau hukum.







Bab 3
Kesimpulan Dan Saran
1.      Kesimpulan
Siri’ adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia, rasa dendam ( dalam hal-hal yang berkaitan dengan kerangka pemulihan harga diri yang dipermalukan ).
Jadi Siri’ adalah sesuatu yang tabu bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam interaksi dengan orang lain. Sedangkan pacce/pesse merupakan konsep yang membuat suku ini mampu menjaga solidaritas kelompok dan mampu bertahan di perantauan serta disegani.
Pacce/pesse merupakan sifat belas kasih dan perasaan menanggung beban dan penderitaan orang lain, meskipun berlainan suku dan ras. Jadi, kalau pepatah Indonesia mengatakan “ Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul ”.
budaya “sipakatau”. Artinya, saling memahami dan menghargai secara manusiawi.
Nilai-Nilai Luhur Budaya Sipakatau telah banyak di tinggalkan oleh masyarakat khusunya perkotaan dikarenakan karena masuknya budaya barat dengan cepat .

2.      Saran

Kepada Masyarakat Indonesia khususnya  masyarakat makassar untuk tetap menjujung tinggi nilai-nilai luhur budaya dari daerahnya. Karena sesungguhnya itulah yang menunjukan jati diri mereka sesungguhnya.