Minggu, 09 November 2014

FROM BULUKUMBA WITH LOVE

                Ini cerpen pertama yang aku buat, untuk melengkapi tugas pertama pada mata kuliah "TEKNIK PENULISAN" dengan alur cerita paling aneh dan gak masuk akal sama sekali dan yah, sedikit lebay (atau mungkin lebay sekali) hihi. gaya nulisnya pun hancur, gak sesuai dengan EYD, dan 100% ini adalah hasil hayalan dan imaginasi penulis, dengan sedikit harapan juga bisa memiliki kisah cinta yang kayak gini hahaha, dan satu hal yang saya sadari setelah cerpen ini jadi adalah gak ada konflik sama sekali didalamnya :)


Happy reading......



TUGAS MATA KULIAH TEKNIK PENULISAN
Oleh : Nurul Adliyah Purnamasari (F61112003)

FROM BULUKUMBA WITH LOVE
           
Tok..tok..tok..
            Seorang diluar sana mengetuk pintu kamarku. Mengagetkanku yang sedang belajar untuk menyambut ujian final terakhir besok.
            “Iya, tunggu.” Aku bangkit dengan malas-malasan membuka pintu. Kak Oli tampak berdiri dengan tersenyum didepan pintu kamarku. Membuat aku lebih bete lagi. Huh, ngapain sih dia, mengganggu orang yang lagi belajar ajah.
            “Ada apa sih, kak ?” tanyaku sambil berjalan kembali menuju tempat tidur.
            “Besok terakhir ujian kan ?  habis itu liburan hampir tiga bulan kan ? kamu ada acara gak buat liburan nanti ?” Kak Oli bertanya dengan penuh semangat tanpa jeda sedikitpun.
            “iya, emang kenapa sih kak ?” aku kembali menekuni buku cetak diatas tempat tidur,
            “Temenin kakak ke Bulukumba, yuk ?”
            “Ke Bulukumba ?  Sulsel ? Ngapain ?” Aku kaget.
            “Temani kakak observasi disana yah ? untuk penilitian skripsi sih ? temenin yah ? masa kakak kesana sendiri sih ?” Bujuk kak Oli.
            Aku berfikir. Kayaknya seru juga, aku kan belum pernah kesana. Lagian habis ujian kan butuh sedikit refreshing. “yaudah deh, aku mau” kataku ke Kak Oli.
            “yah, gitu dong, itu baru namanya anak manis” Kak Oli tersenyum bahagia.
***
            Akhirnya Ujian final pun selesai. Hari ini kami telah berada di Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak. Menunggu penerbangan kami menuju Makassar. Ternyata kak Oli akan mengambil penelitian Skripsi di daerah adat Kajang, Kabupaten Bulukumba. Sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan. Kak Oli adalah seorang mahasiswi tingkat akhir Jurusan Antropologi Sosial di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Sedangkan aku sendiri aku adalah mahasiswa jurusan Bahasa Asing, pada Akademi Bahasa Asing Pontianak. Baru saja menyelesaikan semester 2, dan akan segera naik pada semester 3 setelah liburan kali ini.
            Pada pukul 14.30 kami mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Setelah perjalanan 1 jam dari Pontianak ke Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan Jakarta ke Makassar selama 2 jam. Sesampainya kami di Makassar, kami dijemput oleh kak Kaffan, pacar Kak Oli yang juga Mahasiswa Antropologi di Universitas Hasanuddin Makassar. Mereka bertemu ketika mengikuti kegiatan temu Ilmiah Mahasiswa Antropologi se-Indonesia tahun 2013 lalu di Makassar.
            “Kaffan, ini adik aku, Alin.” Kak Oli memperkenalkan ku kepada Kak Kaffan.
            “Kaffan..” Kak Kaffan mengulurkan tangan sambil tersenyum.
            “Alin” kubalas uluran tangannya dengan senyuman ramah.
***
            Keesokan harinya, pukul 07.15 menit kami berangkat ke Kajang dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Kak Kaffan. Dia menemani kami berdua ke Kajang, sekaligus membantu kak Oli dalam melakukan penelitiannya tersebut. Dalam perjalanan kami melewati beberapa kabupaten dengan pemandangan khas Indonesia. Kami melewati persawahan dan pengunungan yang hijau. Sunggu indah pemandangan Indonesia. Tidak kalah dengan pemandangan diluar negeri sana. Sekitar pukul 15.00 kami sampai di kawasan komunitas adat Amma Toa. Sebuah kawasan adat yang masih mempertahankan kebudayaan dan tradisinya dengan hidup sederhana menggunakan pakaian berwarna hitam setiap harinya.
            Kak Oli akan memulai penelitiannya besok hari. Kami menginap disalah satu rumah warga, daerah Kajang luar. Dearah Kajang luar terletak dibagian depan, sebelum memasuki daerah Kajang dalam yang memang masih hidup dengan tradisi-tradisi leluhur mereka. Daerah Kajang luar bisa dikatakan sudah mulai tersentuh dengan modernisasi. Sehingga kehidupan mereka sudah tidak jauh berbeda dengan masyarakat lainnya.
            Keesokan harinya, aku dan Kak Kaffan menemani Kak Oli memulai untuk penelitian. Selain itu, kami juga ditemani dengan seorang masyarakat sekitar. Karena hanya segelintir dari masyarakat Kajang Dalam yang mengerti bahasa Indonesia. Mereka mayoritas hanya bisa berbahasa Konjo. Bahasa asli masyarakat Bulukumba. Kami berjalan sekitar 2 meter untuk mencapai daerah Kajang Dalam. Dalam perjalanan kami berkenalan dengan seorang mahasiswa dari Taiwan. Dari perkenalan kami ketahui ia bernama Lin Chou. Ia adalah mahasiswa Kedokteran dari Universitas Katolik Fu Jen, Taiwan. Ia sedang melakukan praktek di daerah Kajang sebagai tugas akhir sebelum lulus dari fakultas kedokteran. Lin Chou tersenyum sangat manis kedapaku. Kulitnya putih, hidungnya mancung dengan tinggi sekitar 178 cm. Rambutnya agak panjang dengan poni kedepan. Sangat khas pria Taiwan, yang lebih mengangumkan dia sangat fasih berbahasa Indonesia.
            Sore hari ketika Kak Oli selesai melakukan observasi pada hari ini, kami kembali berjalan menuju rumah yang kami tempati. Setidaknya Kak Oli masih akan tetap melakukan penelitian hingga dua bulan kedepan.  Hari ini kami banyak berinteraksi dengan masyarakat adat. Termasuk dengan Lin Chou, dia sangat ramah dengan kami. Senyumnya tidak pernah hilang jika bertatapan denganku yang selalu kubalas dengan senyuman malu-malu. Ternyata Lin Chou juga menginap di Kajang Luar, tepatnya di rumah kepala Desa. Sehingga kami bisa berjalan bersama menuju tempat yang kami tinggali disini.
            Malam harinya kami habiskan dengan bercengkrama bersama di balkon depan rumah. Kami bercerita banyak hal. Malam disini sangat sepi. Sunyi. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Namun, inilah yang menarik. Hal yang tidak pernah kami dapatkan jika berada di Kota yang penuh dengan keramaian.
            Pukul enam pagi, alarm pada handphoneku berbunyi. Aku terbangun, Kak Oli masih tertidur disampingku bersama dengan anak gadis sang pemilik rumah. Aku bangkit menuju toilet yang berada dibagian bawah rumah panggung. Setelah itu, aku berjalan menuju halaman rumah, udara pagi yang cukup dingin. Mataku menangkam sosok yang kemarin sangat mencuri perhatianku. Lin Chou sedang berlari-lari kecil. Dia melihatku dan menyunggingkan senyuman manis kepada yang kubalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Dia terlihat berjalan menghampiriki.
            “Selamat pagi, Alin. Mau lari pagi dengan ku ?” Ajaknya.
            “Tentu, tunggu sebentar yah,” Aku tersenyum. Kemudian berjalan menuju rumah mengganti piama dan sandal jepitku dengan peralatan jogging.
            Pagi ini aku habiskan dengan lari pagi dengan Lin Chou. Kami begitu akrab. Kami bercerita begitu banyak hal, dia menyakan banyak hal tentang diriku, begitupun sebaliknya. Hal yang membuatku begitu kanget ternyata dia bukanlah asli Taiwan, hanya ayahnya yang berasal dari Taiwan. Namun ibunya asli Singkawang. Sebuah Kota di Kalimantan Barat. Ternyata kami sama-sama berasal dari Kalimantan Barat. Ternyata itulah yang menjawab mengapa dia begitu fasih berbahasa Indonesia. Namun, dia lahir dan besar di Taiwan, hanya sesekali dia kembali ke Singkawang menemani sang Ibu bertemu keluarganya disana. Tidak mengherankan, Singkawang memang mayoritas masyarakat Tionghoa, banyak diantara gadis-gadis Singkawang atau yang lebih dikenal dengan kata Amoy menikah dengan pria Taiwan. Salah satunya yah, ibu Lin Chou. Mulai hari ini kami sangat akrab. Hari-hari berikutnya kami banyak menghabiskan waktu bersama. Aku merasa bagitu nyaman bersama Lin Chou. Dia begitu baik dan perhatian. Terutama statusnya yang calon dokter membuat aku semakin mengaguminya. Dia begitu ramah dengan pasien-pasienya dan mudah berbaur dengan masyarakat sekitar sini.
***
            Tidak terasa, sudah sebulan lebih aku menemani Kak Oli penelitian disini. Kak Kaffan beberapa hari yang lalu kembali ke kota Makassar. Dia akan kembali lagi kesini bulan depan untuk menjemput kami. Hubungan aku dengan Lin Chou semakin dekat. Kadang, aku menemani dan membantu ia memeriksa pasien-pasiennya. Sehingga aku banyak belajar mengenai ilmu kedokteran darinya. Hari-hari yang kami lalui begitu menyenangkan. Namun, 3 hari lagi dia akan ke Singkawang untuk menjemput ibunya, kemudian kembali ke Taiwan untuk menyelesai kuliahnya. Dia telah menyelesaikan tugasnya praktik disini selama 6 bulan. Aku begitu sedih. Namun Lin Chou selalu menghiburku, dan berjanji setelah kuliahnya selesai dia akan ke Kalimantan Barat untuk menemuiku. Besok dia mengajakku ke Bira, dia mengajakku jalan-jalan ke salah satu pantai yang cukup terkenal di daerah sini. Aku meminta izin kepada Kak Oli dan dia mengizinkan.
            Pagi hari, kami bersiap-siap berangkat ke Pantai Bira. Kami menggunakan sebuah mobil mikrolet yang disewa oleh Lin Chou. Perjalanan kami diwarnai dengan cerita-cerita dan humor yang dikeluarkan oleh Lin Chou, membuat kami tidak berhenti tertawa. Setelah perjalanan yang cukup jauh kami sampai di pantai. Hari ini pantai tidar terlalu ramai, mungkin karena ini bukan hari libur sehingga tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Kami menghabiskan waktu dengan berenang dan berlari-lari di tepi pantai. Sangat menyenangkan. Kami tertawa begitu ceria. Seakan melupakan bahwa besok kami akan segera berpisah, walaupun Lin Chou meyakinkan ini hanya perpisahan sementara. Setelah capek berlari-larian, kami akhirnya memilih duduk berdua ditepi pantai. Warna jingga dilangit sudah Nampak. Matahari akan segera terbenam.
            “Alin,” Lin Chou menatapkan begitu sayu, aku balas menatapnya “Satu bulan terakhir ini aku begitu bahagia bisa bersama mu,” ungkap Lin Chou. “Besok kita akan berpisah, tapi aku aku berjanji akan segera kembali untukmu, aku berjanji” dia menggenggam tanganku, memberikan ku kehangatan yang luar biasa. “Alin, will you be my girl ?”
            Aku kaget, aku tidak menyangka Lin Chou memiliki perasaan yang sama denganku. Aku bahagia. Aku membalasnya dengan anggukan kepala yang membuatnya tersenyum bahagia. Dia kembali menggenggam tanganku. Aku tertawa begitu bahagia. Dibawah matahari yang mulai tenggelam, aku menemukan seorang pria yang begitu luar biasa. Aku berharap dialah pria yang akan menemani hidupku untuk salamanya. Sungguh ini menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Kami kembali berjalan mengitari pantai sambil berpegangnya tangan. Pantai ini menjadi saksi bersatunya kami menjadi sepasang kekasih. Perjalanan pertama ku ke pulau ini ternyata telah direncanakan oleh tuhan yang mempertemukan ku dengan pria yang sedang tersenyum disampingku ini. Terima kasih, tuhan, aku begitu bahagia…

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar